Monday, June 24, 2024
HomeUncategorisedWiwiek: Pertumbuhan Ekonomi Sumut Masih Tertinggi Kedua di Sumatera

Related Posts

Featured Artist

Wiwiek: Pertumbuhan Ekonomi Sumut Masih Tertinggi Kedua di Sumatera

Global Cyber News| Medan I Meski laju perekonomian di Sumut dewasa melambat akibat wabah pandemi Covid-19, namun hingga kini pertumbuhan ekonomi di Sumut masih tertinggi kedua di Sumatera, setelah Sumatera Selatan (Sumsel) sebesar 4,98 persen. Sedangkan Sumut mencapai 4,65 persen dan masih jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 2,97 persen.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumut, Wiwiek Sisto Widayat menyatakan itu pada wartawan saat Bincang Bareng Media (BBM) melalui aplikasi zoom, Jumat (8/5/2020).

Wiwiek juga memperkirakan, meluasnya dampak Covid-19 ini akan mendorong terjadinya perlambatan ekonomi di Sumut, hanya di kisaran 4,3 persen-4,7 persen atau mengalami perlambatan sekitar 0,8 persen dari baseline dalam skenario sedang.

Menurut Wiwiek perlambatan terdalam akan dirasakan pada triwulan 2 tahun 2020 dan akan meningkat pada triwulan berikutnya seiring dengan fase pemulihan akibat Covid19. Pada kasus Covid-19 perlambatan dirasakan di sektor eksternal maupun domestik.

“Untuk itu dibutuhkan upaya keras menahan penurunan daya beli masyarakat melalui program jaring pengaman sosial melalui anggaran pemerintah,” kata Wiwiek.

Ia juga memperkirakan terjadinya peningkatan inflasi di Sumut pada bulan suci Ramadan ini seiring dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok seperti bawang merah, daging dan daging ayam ras.

Disebutkan, Di Bulan Suci Ramadan ini, jelas Wiwiek Sisto Widayat, inflasi Sumatera Utara diprediksi akan meningkat seiring dengan harga-harga beberapa bahan makanan yang merangkak naik seperti bawang merah, daging sapi dan daging ayam ras.

Lebih jauh Wiwiek mengakui bahwa menjelaskan saat ini peredaran uang elektronik (UE) pada bulan Maret 2020 lalu sebanyak 2,34 juta UE atau mengalami kenaikan sebesar 7,37 persen (mtm) dibandingkan bulan sebelumnya.
Disebutkan, mayoritas UE yang beredar merupakan 79 persen server-based. Dari sisi volume transaksi uang elektronik di Sumut, pada bulan Maret 2020 terjadi penurunan sebesar -6,86 persen (mtm) dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

“Penurunan ini diprediksi akibat aktivitas ekonomi masyarakat yang juga menurun selama pandemi Covid-19. Karena sebagian perkantoran memberlakukan kebijakan Work From Home (WFH) dan adanya pembatasan kegiatan usaha seperti mall, rumah makan dan tempat-tempat hiburan,” ucap Wiwiek seraya menambahkan bahwa BI bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumut serta Satgas Pangan Sumut akan menjaga kestabilan harga dan pasokan pangan di tengah pandemi Covid-19. (p)

Red. Pandi Lubis

Latest Posts