Monday, August 8, 2022
spot_imgspot_img

Terbaru

Eti Hayati : Tanggapi Orang tua Dengan Bijak, Fenomena Kebijakan Fase ‘New Normal’.

Eti Hayati Dosen Universitas Pamulang, Tangsel.

Tangerang Selatan, Globalcybernews. Banyak pro dan kontra mengenai akan diterapkannya “New Normal” terutama respon dari orang tua yang harus mempersiapkan mental bagi anak-anaknya untuk bersiap menyongsong aktivitas “bersama” dengan virus Covid-19 yang masih melanda sampai saat ini.

Masa Pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia sudah hampir tiga bulan lamanya, berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah melalui kebijakannya dengan menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk menekan penularan wabah tersebut.

Namun, upaya tersebut sepertinya dianggap tidak berjalan dengan maksimal, sehingga akhir-akhir ini muncul fenomena berita di televisi maupun media sosial mengenai istilah “New Normal” atau penerapan prosedur standar tatanan baru, dimana masyarakat dapat menjalankan aktivitas normal dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Berita-berita yang hadir di televisi maupun media sosial di era teknologi saat ini begitu bebas dan dapat dengan cepat untuk dikonsumsi, hal tersebut tentunya membuat orang tua perlu bijak dalam memahami berita yang didengar maupun yang dibacanya.

” Orang tua perlu membedakan mana berita yang akan berdampak positif dan kategori berita yang seperti apa yang dapat menyebabkan keresahan dan kekhawatiran bagi keluarganya,” ujar Eti Hayati. Sabtu (30/5).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoaks atau hoax adalah berita bohong atau berita tidak bersumber.

Hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya, oleh karena itu, dibutuhkan sikap bijak dari para orang tua dalam menyikapi berita yang diduga hoax, cara sederhana yang bisa dilakukan oleh para orang tua untuk mengidentifikasi berita yang diduga sebagai hoax, jika pesannya tidak mengandung unsur 5W + 1H lengkap, yaitu what (apa), when (kapan), who (siapa), why (mengapa), where (di mana), dan how (bagaimana).

Kebijakan mengenai New Normal yang digaungkan oleh Pemerintah, pada intinya masyarakat dalam menyongsong new normal harus siap hidup berdamai dengan Virus Covid-19, dimana salah satunya anak-anak yang awalnya dikondisikan belajar di rumah sekarang harus siap beradaptasi dengan situasi pandemi.

Oleh karena itu, sikap bijak sangat penting untuk menghindari keresahan dan kekhawatiran, terlebih di tengah lingkungan keluarganya.

Orang tua diharapkan dapat menyikapi informasi yang belum ada kepastiannya tersebut dengan tetap mengarahkan anak-anaknya dan mengawasi proses pembelajaran di rumah, kemudian apabila kedatangan tamu hendaknya melakukan prosedur tetap kesehatan yang telah ditentukan oleh WHO, sehingga upaya pemerintah dalam menanggulangi wabah covid-19 dapat maksimal dengan upaya bersama.

Adapun protokol kesehatan yang harus dipahami oleh setiap anggota keluarga dalam mencegah penularan Covid-19, diantaranya selalu menggunakan masker, jaga jarak 1-2 meter, mencuci tangan sesering mungkin dengan sabun atau hand senitizer, membatasi jumlah kapasitas pengunjung disarana umum, dan pengecekan suhu tubuh.

Protokol Kesehatan tersebut perlu dikondisikan oleh orang tua kepada anak-anak kita agar mereka paham dengan situasi yang sedang terjadi, sekaligus untuk menepis kekhawatiran para orang tua mengenai berita korban yang positif corona yang menimpa anak-anak kecil dan bayi yang baru lahir tak luput dari virus Covid-19.

Dengan demikian, semua informasi yang bermunculan dengan cepat di media sosial dapat diterima dengan sikap bijak oleh orang tua untuk menghindari keresahan dan kekhawatiran di lingkungan keluarga, walaupun kepastian masuk sekolah belum ditetapkan kapan akan diberlakukan kembali.

Hal tersebut karena berdasarkan pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di Koran Kompas (Rabu, 20/5/2020), Nadiem Makarim menengaskan keputusan pembukaan kembali sekolah akan didasarkan pada pertimbanhan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Terbaru

Baca Juga