Friday, February 23, 2024
HomeOpiniJacob Eteste :Menilik Berkah dan Ruh IKN Saat Minyak Goreng Langka serta...
spot_imgspot_img

Related Posts

Featured Artist

Jacob Eteste :
Menilik Berkah dan Ruh IKN Saat Minyak Goreng Langka serta Pandemi Copid-19 Yang Belum Mereda

Global Cyber News.Com|Jangankan pindah rumah, pindah tempat kost saja repotnya tak alang kapalang. Soalnya bukan cuma tempat tidur dan kompor yang mesti doboyong itu sudah merepotkan, kemungkinan besar banyak barang yang rusak dan harus dapat diperhitungkan juga, dari mana talangan biayanya. Tentu saja semua itu berada diluar ongkos kepindahan yang tidak murah.

Hitungan serupa ini baru dalam bentuk materi belaka yang umum menjadi cara berpikir kaum materialistis atau kapitalis.

Tentu rencana dari pindah rumah dalam pemikiran maupun kalkulasi
kaum sosialis akan merinci hal-hal yang berdimensi sosial. Misalnya kalau harus pindah rumah, apakah sungguh jarak tempuh tidak berdampak terhadap tempat belajar atau lokasi pekerjaan. Karena soal ongkos bisa saja tidak menjadi masalah. Namun hibungan dengan masyarakat sekitarnya akan menimbulkan masalah baru yang harus diterima apapun resikonya.

Jika yang pindah itu adalah satu keluarga yang memiliki dua anak misalnya, fasilitas tempat pendidikan harus segera diperhitungkan. Sebab di tempat yang baru itu nanti, tak hanya perlu disediakan sekolah, tapi lingkungan sekolah itu sendiri harus memenuhi syarat, bukan saja untuk belajar, tapi juga memberi keleluasan dalam bersosialisasi diri dengan segenap pendukungnya yang juga harus dipersuapkan. Bila, semangat dari keluarga tersebut, bisa layu seperti bunga yang tidak dapat berkembang.

Pindah rumah atau pindah tempat kos ini sekedar ingin memberi bandingan saja untuk menjawab kegundahan Bustami sebagai salah seorang sahabat yang bekerja sebagai pegawai di sebuah Departemen yang bakal ikut boyongan bersama Ibu Kota Negara (IKN) dari Jakarta ke Penajam, Kalimantan Timur pada dua tahun nanti — 2024 — seperti yang telah menjadi tekad Presiden Joko Widodo ingin melakukan upacara kenegaraan tujuhbelasan bisa dilakukan di IKN Nusantara itu nanti.

Meski hingga hari ini keriuhan kritik dari berbagai kalangan para akademisi hingga cerdik pandai lainnya semakin memanas, toh program dari perencanaan proyek wah ini terus berlanjut. Meski kemudian kemelut dari pembiayaaan sudah dikeluhkan karena hendak mengulik duit dari warga masyarakat.

Masalahnya tentu menjadi semakin rumit ketika dana yang diharap dari kantong rakyat itu zong alias nihil. Karena kondisi rakyat pun belum pulih dari pandemi Covid-19, karena justru rakyat lagi berharap adanya pertolongan atau semacam bantuan agar sedikit bisa diringankan beban hidupnya yang semakin berat dan tidak berdaya karena ditimpali oleh gejolak harga bahan pokok yang tak masuk akal itu. Termasuk minyak goreng yang sempat menghebohkan itu.

Soalnya, kelangkaan minyak goreng justru terjadi di rimbunnya kebun kelapa sawit yang amat sangat luas tergampar di negeri kita. Jadi wajar kesannya seperti kisah satire yang ghaib. Sebab banyak, tiba-tiba merasa perlu menyangkal, bahwa kelangkaan minyak goreng itu bukan ulah oknum partai politik yang culas untuk melancarkan kampanye dengan cara termurah, walau rakyat yang harus menjadi korban.

Pihak kementerian pun yang paling kompeten dengan urusan bahan pangan pokok ini ikut berkelit dan blingsatan dengan sejuta retorikanya yang cuma menjadi bahan olokan dan tertawaan belaka.

Jadi pokok soal dari kepindahan IKN ke Penajam, Kalimantan Timur itu perlu dicarikan sumber dana yang ghaib sifatnya. Karena secara logika akal sehat, dalam kondisi duit yang sulit seperti sekarang ini, proyek legecy ini akan semakin memperparah dera derita yang tengah melantak bangsa maupun negara kita yang sedang terengah-engah memikuk beban yang maha berat.

Belum lagi rincian non materi yang harus dipenuhi, agar ditempat yang baru itu kelak — kalau pun harus tetap dapat dilaksanakan dengan cara paksa misalnya — masih perlu semacam do’a dan restu dari alam serta lingkungan adat dan budaya masyarakat yang tata kramanya menjadi semacam keyakinan yang tak terpisahkan. Karena kelak, warga dan masyarakat pula yang akan menjadi garda terdepan untuk menjaga dan merawat keberkahan serta kesinambungan dari peradaban baru yang tumbuh dan berkembang, agar dapat berbuah lezat di masa depan.

Dan nilai-nilai immaterial yang tidak bisa diabaikan itu, justru lebih bersifat mutlak. Karena memang tidak ada tawar menawar seperti prasyarat materi yang bisa dikurangi atau disusulkan kemudian. Artinya, kepindahan dalam bentuk lahiriyah itu hendaknya tidak abai pada nilai atau dimensi yang bersifat bathiniah. Karena apapun bentuk maupun wujud yang terbaangun kelak, harus punya ruh atau jiwa sebagai pengikat keyakinan kepada Allah Penguasa Jagat Raya dan seisinya.

Agaknya, seperti itulah berkah yang sepatutnta kelak dapat diperoleh dan senantiasa menjadi harapan bagi segenap warga bangsa, meski tetap saja ada diantaranya yang tak rela karena merasa terpaksa dan dipaksa — hingga tidak sama sekali setuju pada hasrat memindahkan IKN dari Jakart ke Penajam, Kalimantan Timur, yang dianggap prematur, atau belum tepat waktu pelaksanaannya.

Jakarta, 27 Maret 2022

Red.

Latest Posts