
Globalcybernews.com-Medan I Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumatera Utara (Sumut) kini sedang melangkah bersama untuk Sumut yang lebih sejahtera. Di tengah persiapan gedung baru Kantor OJK Sumut Mohon doa dan dukungan untuk persiapan gedung baru Kantor OJK Sumatera Utara sebagai wujud komitmen kami dalam menghadirkan pelayanan publik yang lebih inklusif, responsif, dan dekat dengan masyarakat.
Sementara itu kinerja sektor jasa keuangan di Sumut juga menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dan stabil sepanjang tahun terakhir. Kondisi tersebut beriringan dengan penguatan tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat di wilayah tersebut.
“Seluruh industri keuangan perbankan maupun non-perbankan terus mengalami pertumbuhan yang mendukung aktivitas perekonomian daerah. Namun secara garis besar kondisi perbankan maupun lembaga keuangan lainnya seperti Perusahaan Pembiayaan, Modal Ventura, LKM, Fintech, Perusahaan Penjaminan, Perasuransian, Dana Pensiun, serta Pasar Modal selama setahun terakhir ini menunjukkan pertumbuhan yang bagus,” ujar Triyoga Laksito dalam acara Media Talk yang berthemakan Sektor Jasa Keuangan Tumbuh, Literasi dan Inklusi Keuangan Menguat di Sumut, Selasa (22/9/2026).
Triyoga saat itu didampingi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan Kantor OJK Provinsi Sumut, Wan Nuzul Fachri, Direktur Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis OJK Sumut, Yusri dan Direktur Utama PT Bank Sumut (Perseroda) Heru Mardiansyah.
Menurut Triyyoga, saat ini sektor perbankan di Sumut ditopang oleh 56 entitas Bank Umum dengan jaringan mencapai 5.526 kantor dan ATM. Wilayah pengawasan langsung OJK Sumut mencakup dua Bank Umum lokal, yakni Bank Mestika dan Bank Sumut. Selain itu, terdapat 49 entitas Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah (BPRS) yang didukung oleh 110 jaringan kantor.
Untuk menjangkau masyarakat di wilayah terpencil, lembaga keuangan mengoptimalkan program Laku Pandai melalui kemitraan dengan UMKM lokal seperti toko kelontong. Saat ini, terdapat lebih dari 74.000 agen Laku Pandai yang telah menjangkau 94,5% total desa dan kelurahan di Sumut.
“Program ini sangat membantu masyarakat; jika sebelumnya ongkos menuju kantor cabang/ATM terdekat bisa mencapai Rp20.000, dengan Laku Pandai masyarakat cukup berjalan kaki ke toko kelontong terdekat untuk melakukan transaksi perbankan seperti transfer atau penarikan skala kecil,” tuturnya.
Di sektor Perusahaan Pembiayaan (leasing), tercatat sebanyak 59 entitas dengan 285 jaringan kantor berhasil menyalurkan pembiayaan sebesar Rp24,1 triliun atau tumbuh 5,92% secara tahunan dengan NPF di level 2,9%. Sektor Modal Ventura yang diisi 3 perusahaan dengan 125 jaringan tumbuh 45% menjadi Rp711 miliar dengan NPF 6,37%. Sementara itu, 2 entitas Lembaga Keuangan Mikro (LKM) mencatatkan pembiayaan sebesar Rp12,8 miliar.
Sektor Pergadaian diperkuat oleh 24 entitas legal dengan 167 jaringan layanan, di mana entitas pergadaian swasta tumbuh 26,5% mencapai Rp365 miliar. OJK kini tengah melakukan penertiban secara persuasif terhadap entitas pergadaian ilegal agar mengajukan izin resmi demi menjamin keamanan barang gadai masyarakat. Untuk sektor Fintech P2P Lending legal, pembiayaan yang disalurkan tumbuh 29% mencapai Rp3,97 triliun dengan tingkat risiko kredit macet (TWP90) terjaga rendah di angka 1,77%.
Layanan perlindungan risiko dan investasi jangka panjang di Sumut diampu oleh 91 entitas perusahaan asuransi dengan 311 jaringan kantor, 2 perusahaan penjaminan dengan 3 jaringan kantor, 2 pengelola dana pensiun, serta 47 jaringan Perusahaan Efek dan 171 jaringan Agen Penjual Reksa Dana (APERD).
LITERASI DAN INKLUSI MENINGKAT
Berdasarkan Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan tahun 2026 yang digelar BPS bersama OJK dan LPS, tingkat literasi keuangan Sumut mencapai 71,57%, berada di atas rerata nasional sebesar 69,57%. Sementara itu, tingkat inklusi keuangan tercatat sebesar 92,01%, mendekati angka nasional yang berada di level 93,61%.
“Nanti yang saya sampaikan tidak hanya bersifat kuantitatif (angka-angka), tetapi juga kualitatif, sehingga kualitas dari angka-angka tersebut juga akan kita jelaskan,” pangkasnya.
Pada indikator kinerja perbankan, total aset Bank Umum tumbuh 3,33%, Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 4,29% menjadi Rp345,6 triliun, dan kredit disalurkan tumbuh 7,67% mencapai Rp332,6 triliun. “Ini menggambarkan bahwa kepercayaan masyarakat untuk menyimpan dana di perbankan masih terjaga,”ujar Triyoga.
Diakuinya, penyaluran kredit didominasi oleh industri pengolahan sebesar 36,9%, industri pertanian 23,7%, serta perdagangan 20,2%. Kualitas kredit tetap terjaga dengan risiko Non-Performing Loan (NPL) sebesar 1,96% dan Loan at Risk (LAR) di angka 6,3%.
Lebih jauh disebutkan bahwa Kredit UMKM Bank Umum di Sumut sedikit menurun dari Rp81,9 triliun pada Juli 2025 menjadi Rp.80,4 triliun pada Juli 2026, atau turun 1,77% YoY. Artinya, penyaluran kredit ke segmen UMKM belum tumbuh seperti segmen lainnya dan masih perlu didorong lebih kuat.
“Saat ini Struktur kredit Bank Umum Sumut masih didominasi oleh korporasi sebesar ±47%, disusul konsumtif ±29%, dan UMKM ±24%. Porsi UMKM yang masih sekitar seperempat dari total kredit menunjukkan bahwa ruang peningkatan pembiayaan kepada pelaku usaha kecil dan menengah masih terbuka,” katanya. (dey)
Red










